Bangun Pemudi Pemuda
Karangan / Ciptaan : A. Simanjuntak
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri
Ajojing
Oleh Naif
Para pemuda pemudi kita ajojing bersama
Para pemuda pemudi kita ajojing bersama haa
Turunlah ke lantai dansa
Buat gairah suasana
Ajak lah tiap pasangan
Kita semua ajojing bersama
Dua lirik lagu di atas sama-sama mengajak para pemuda dan pemudi. Namun, sangat bertolak belakang. Lagu ciptaan A.Simanjutak mengajak para pemudi dan pemuda untuk membangun dan berbuat untuk bangsa dan negara.
Sedangkan lagu yang diciptakan naif mengajak pemuda dan pemudi untuk ajojing atau berdansa-dansi. Jenis lagu inilah yang disebut oleh Presiden Pertama RI Ir Soekarno sebagai lagu ngak ngik ngok
Sehingga tak heran jika pada tahun 1960, Presiden saat itu Ir Soekarno melarang pemuda untuk ‘’mengkonsumsi’’ apalagi ‘’memproduksi’’ lagu ngak ngik ngok yang tidak membawa semangat berjuang untuk bangsa.
Musik ngak-ngik-ngok buatan dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu ‘Oh, Kasihku’ ciptaan Koes Bersaudara (kemudian berubah nama menjadi Koes Plus) dan lagu ‘Boneka dari India’ yang dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya M Haris, Elya Khadam dst) juga dilarang. Bahkan Koes Bersaudara dan Elya Agus kemudian dipenjarakan.
Bung Karno sapaan Ir Soekarno, sebagai pejuang sejak pemuda pun paham, pada masa itu pemuda di China dan Jepang menahan diri untuk berfoya-foya dan berjuang untuk kemajuan bangsa. Namun, sayang pada tahun 1966, Bung Karno tak lagi berkuasa sehingga terjadi ‘’pemberontakan’’ pemuda. Radio-radio pun berdiri. Musik dari barat pun bebas masuk di negeri ini.
Namun lihat, setelah empat puluh tahuh berlalu. Ternyata musik jenis ini bisa menjadi pembuka bagi masuknya gaya hidup sangat pragmatis, cair dan hedonis, dan buntutnya adalah konsumtif. Itulah yang ingin dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang mendayu-dayu para pemuda mudah terlena dan mudah tercerabut dari nilai-nilai idealisme. Apalagi bila musik itu disertai gaya pergaulan longgar serta dibumbui alkohol dan narkoba. Maka hasilnya bisa dilihat dengan jelas di sekeliling kita sekarang ini.
Rata-rata pemuda masa kini ingin segera bisa hidup enak tapi dengan cara yang cepat dan mudah. Instan. Santai. Amat konsumtif. (Hormat untuk minoritas anak muda yang mau belajar atau bekerja keras dengan cara berjualan mi ayam, jadi buruh pabrik, PKL, TKI, dsb). Namun selebihnya seperti hanya menuruti jebakan kaum modal yang dulu sengaja menghadirkan musik ngak-ngik-ngok yang tidak disukai Bung Karno.
Gaya hidup pragmatis, santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang bisa bisa dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok yang luar biasa besarnya sehingga bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia. Di kampus-kampus, kantin dan kafe lebih ramai daripada perpustakaan. Kebutuhan pulsa jauh mengalahkan kebutuhan akan buku.
Sebagian besar pemuda Indonesia punya prestasi rendah di bidang akademik. Juga di bidang olehraga. Sebaliknya, hasrat untuk mengonsumsi semua barang yang ditawarkan terutama melalui media TV sangatlah besar. Melalui semua media yang tersedia kaum modal telah berhasil mengubah masyarakat, terutama kaum muda, bukan hanya jadi manusia pragmatis dan konsumtif melainkan juga hidup dalam dunia sensasi. Kaum modal memang tahu, masyarakat yang sudah masuk perangkap sensasi sangat mudah menjadi pembeli barang yang mereka buat, baik barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan.
Berperan
Tidak ada kata terlambat. Begitu gumam saya. Pada masa lalu boleh kita membuat suatu kesalahan. Namun, saat ini dan masa yang akan datang kita tidak boleh lagi melakukan kesalahan yang sama. Sebab, manusia atau bangsa yang baik bukannya tidak pernah berbuat salah. Melainkan bisa belajar dari kesalahan masa lampau.
Peran guru sebagai agen perubahan bangsa sangat dibutuhkan. Memang saat ini dampaknya tidak terasa, namun mudah-mudahan di masa yang akan datang akan berdampak bagi perubahan kehidupan bangsa yang lebih baik.
Anak-anak khususnya pemuda diarahkan untuk memiliki jiwa kebangsaan yang tinggi sehingga di masa yang akan datang mereka dapat berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemuda jangan hanya sebagai objek pertumbuhan ekonomi yang tidak terlepas dari semangat kapitalisme. Namun, bagaimana di masa yang akan datang mereka menjadi subjek yang dapat menentukan kebijakan dalam pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal ini harus dilakukan, karena pada masa awal pergerakan perjuangan peran pemuda telah ada. Pada saat pergerakan Budi Utomo oleh Dr Soetomo, peran Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta hingga desakan kaum pemuda kepada Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Maka marilah bersama-sama menanamkan jiwa kebangsaan dengan berbagai cara. Di antaranya dalam bidang seni dan musik Coklat di bawah ini;
Bendera
Ciptaan : Coklat
Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegap batu karang
Tapi slalu kucoba tuk melindungimu
(*)
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi slalu ku coba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu ku coba tuk mengindahkanmu
Bridge:
Ku pertahankan kau demi kehormatan bangsa
Ku pertahankan kau demi tumpah darah
s’mua pahlawan pahlawanku
Reff:
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi
Di Indonesia ku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi
Di Indonesia ku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Kuakan slalu menjagamu
Back to: (*), Bridge, Reff
hoo….ooo….hooo…
[...] Peran Pemuda dalam Kemerdekaan August 17, 2008 10:56 am admin Dari Blogger – Agreegator Dari http://hangtuahbatam.wordpress.com/2008/08/17/peran-pemuda-dalam-kemerdekaan/ [...]
pemuda kelak akan menjadi subjek yang memegang segala aspek kehidupan jika pendidikan telah menjadi urat nadi perkembangan bangsa dan negara. jika urat tersebut masih tetap dihisap oleh parasit-parasit koruptor, tentunya para pemuda kelak akan menjadi manusia2 penyakitan, yang hanya bisa menonton, bukan sebagai pelaku. pemuda akan menjadi para manusia yang mengalami penuaan dini , penuaan yang disebabkan oleh kekalahan dalam bersaing.
kita belum merdeka, kita merdeka apabila kita diatur oleh syariat Islam, aturan yang memerdekan umat Manusia. saatnya para pemuda memperjuangkan syariah dan khilafah. saatnya khilafah memimpin dunia. Allahu Akbar!