JUDUL di atas mungkin salah satu bentuk ekspresi kegundahan terhadap situasi yang dihadapi. Bagaimana tidak? saat ini rata-rata sekolah di Batam mungkin di daerah lain mengalami kekurangan. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemko) Batam membuka lowongan guru sekitar 450 orang dari berbagai bidang dan jurusan. Akibatnya, di satu sisi, kekurangan guru di sekolah negeri teratasi namun di sisi lain kekurangan guru di sekolah swasta makin bertambah.
Memang, sejak awal saya sadari Sekolah Islam Terpadu Hang Tuah memiliki keunikan tersendiri. Pada mulanya sekolah ini hanya pada tingkatan TK dan SD sejak saya berada di lingkungan sekolah ini yakni akhir tahun 1999 dan persisnya pada tahun 2000. Namun, sembilan tahun kemudian sekolah ini telah berkembang pada tingkatan SMP, SMA dan SMK.
‘’Dulu problemnya adalah kekurangan murid. Namun sekarang problemnya adalah kekurangan
guru,’’ ujar Reni Elfira yang telah sebelas tahun di Hang Tuah.
Reni merupakan salah satu guru yang mengerti perkembangan Hang Tuah. Sekolah ini merupakan sekolah yang mana muridnya adalah ‘’buangan’’ dari sekolah negeri dan anak ujian paket. Dari segi intelektual, murid di sini kurang. Bukan hanya itu, dari segi ekonomi juga demikian.
Rencana Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk membantu sekolah swasta disambut positif.
Bahkan, rencana mengangkat guru honor daerah di sekolah swasta merupakan terobosan yang positif.
Namun, sayang. Selama ini, kebijakan pemerintah yang baik ini dalam aplikasinya kurang tepat sasaran. Sekolah yang terbantu justeru yang telah banyak mendapat bantuan dan yang memilikikemampuan yang baik. Lantas bagaimana dengan sekolah yang tidak mempunyai akses ke Pemerintahan.
Mungkin, hanya bisa mengelus dada dan berdoa agar mereka juga mempunyai kesempatan yang sama. Toh, mereka juga berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa yang tidak mengenal anak bangsa negeri atau swasta. Yang jelas mereka satu yakni anak bangsa Indonesia.
Dalam hati saya menangis. Di satu sisi, terdapat perjuangan yang cukup berat melawan kaum non muslim yang gencar berusaha merusak aqidah umat Islam. Tapi, di sisi lain, mengapa ada lahan yang di depan mata untuk membina anak didik dan membina aqidah umat tidak dioptimalkan oleh guru yang telah mengabdi di sini. Bahkan, mereka cenderung lari dari perjuangan ini.
Motivasi apa yang harus kuberikan? Jika ukurannya adalah penghasilan atau gaji, tidak semuanya dapat memuaskan. Tapi lihatlah, seberapa besar prosentase pendapatan yang diberikan oleh pengelola dalam sektor gaji. Mungkin ini yang kurang dipahami oleh para guru.
Tapi, tak apalah. Mungkin ini bagian dari perjuangan. Mungkin, kata-kata guru yang akan mengundurkan diri atau ikut PNS harus saya sikapi dengan bagaimana harus menyelamatkan nasib anak-anak ini meskipun nantinya anak-anak tidak akan mengingat apa yang telah kita lakukan.
Bagaimana Menumbuhkan Semangat Juang Guru?
November 14, 2008 oleh hangtuahbatam
saya sebagai murid hang tuah merasa sangat kecewa dengan kurangnya kesadaran seorang guru dalam mendidik kami.mungkin sebagian dari kami ada yang kurang ajar terhadap guru tapi ,menurut saya sebagai seorang guru pasti anda dapat mengatasi hal saperti ini.tapi mengapa seorang guru tega menelantarkan anak didiknya,padahal kami sebagai murid sangat membutuhkan seorang guru dalam masa belajar,kami berharap guru tidak hanya menganggap kami sebagai bagian dari tugas tapi sebagai seorang anak yang masih butuh kasih sayang dari orang tua mereka,dan guru sebagai pengganti orang tua mereka.disekolah tidak semua murid yang punya orang tua .jadi menurut saya guru harus mengubah sudut pandang mereka terhadap murid.
Para pengelola harus jadi tauladan